high rise buildings
Photo by SevenStorm JUHASZIMRUS on <a href="https://www.pexels.com/photo/high-rise-buildings-443383/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Oleh : Charis Djuwa[1]

Pengantar

Pembicaran tentang tarian adat tidak pernah akan terlepas dari pembicaraan tentang budaya dan kebudayaan dari tempat tarian tersebut dilahirkan dan dilestarikan turun temurun. Robert Lowie dalam bukunya yang berjudul Culture and Ethnology tahun 1917 mengatakan bahwa kebudayaan adalah segala yang diterima individu darimasyarakatnya yang berupa kepercayaan, adat- istiadat, kaidah-kaidah kesenian. Kebiasaan atau cara makan minum dan keahlian-kemahiran- kecakapan yang dimiliknya bukan karena aktivitasnya yang kreatif, tetapi sebagai suatu warisan dari masa lalu yang dilengkapi dengan pendidikan formal atau tidak.[2]

Defenisi Lowie tentang kebudayaan dalam konteks ini menegaskan dua hal penting. Pertama, ia menyebutkn kaidah-kaidah seni sebagai salah satu aspek penting dari kebudayaan. Kedua, setiap kebudayaan merupakan warisan dari generasi masyarakat sebelumnya. Dengan demikian, apa yang kita temukan saat ini merupakan hasil endapan yang ditampilkan kembali dari masa lampau.

Tentang Tea Eku

Historitas Tea Eku

               Pada kesempatan ini, saya hendak memperkenalkan dan mengulas secara sederhana salah satu jenis tarian tradisional dari wilayah Nagekeo yakni tarian Tea Eku. Di Nagekeo terdapat beberapa jenis tarian adat seperti ja’I (juga terdapat pada kebudayan Ngadha), Toda Gu, dan beberapa jenis tandak lainnya. Namun pada kesempatan saya hanya memberikan perhatian salah satu tarian khas Nagekeo yakni Tea Eku.

               Tentang apa itu tarian tea eku dan aneka makna yang terkandung di balik  tarian tersebut baru saya ketahui belakangan ini. Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kepada kami sering dipertontonkan suatu jenis tarian tea eku ini. Bahkan tarian ini sering diperlombakan antar sekolah sebab saya adalah salah seorang yang pernah dilatih menjadi penabuh gendang pada waktu itu. Selain itu kami pernah menampilkannya dalam sebuah acara syukuran di suatu tempat yang tidak lagi saya ingat di mana persisnya. Berdasarkan pengelaman ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya sudah mengenal tarian Tea Eku ini sejak kecil walaupun maksud dan nilai dari tarian ini belum terlintas sama sekali di dalam benak saya. Jauh kemudian baru saya tahu bahwa ternyata taria Tea Eku yang sudah lama saya kenal ini hanya ada di Nagekeo.

               Asal mula tarian Tea Eku ini secara historis belum diketahui secara pasti. Konon, tarian Tea Eku ini berasal dari Boawae, Nagekeo, Flores , NTT. Berdasarkan cerita- cerita yang saya peroleh dari beberapa narasumber tidak resmi, dikatakan bahwa tarian Tea Eku sering dipentaskan dalam acara- acara adat di Nagekeo terlebih khusus di daerah Boawae. Tea Eku secara etimologis terdiri atas dua kata yakni Tea yang berate Getar sedangkan Eku yang berarti lambaian (tangan). Tea atau getar dalam artian ini berhubungan dengan gerakan kaki para penari yang tangkas dan lincah yang disesuaikan dengan dentuman gendang yang ditabuh. Eku atau lambaian lebih berkaitan dengan gerakan tangan. Kata eku bila diucapkan dengan penekanan yang lebih panjang  pada huruf vocal “e” maka akan memiliki arti lemah/lembut (turunan dari kata meku yang berarti lembut). Dalam hal ini, eku atau lambaian ini lebih merupakan  sebuah ekspresi kelemahlembutan. Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila tarian dalam tarian Tea Eku, salah satu atribut yang paling penting adalah sapu tangan. Sapu tangan sebetulnya merupakan sebuah atribut yang menegaskan kelemah- lembutan itu sendiri.

               Tarian Tea Eku diperuntukan bagi kaum perempuan (baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa). Biasanya jumlah berkisar 4-6 orang (perempuan). Namun dalam perkembangannya jumlah ini menjadi tidak tentu (Tergntung pada situasi yang ada). Seperti yang terjadi pada pembukaan tarian-tarian tradisional lain di Nagekeo, tarian Tea Eku umumnya diawali dengan sebuah sapaan singkat. Sapaan singkat ini disebut bhea. Isi sapaan ini tidak bersifat kaku melainkan mengikuti situasi atau konteks acara atau pesta adat (maupun acara syukuran lainnya) yang terjadi pada kesempatan itu.

               Setelah Bhea para penari mulai melakuan gerakan- gerakan anggun sesuai dengan irama gong gendang yang mengiring mereka. Sekurang- kurangnya ada lima ragam atau gerakan utama yang berbeda dari tarian ini.  Setiap pergantian ragam diselingi dengan satu gerakan datar dengan tetap mengandalkan kelincahan kaki (Ji). Setiap memasuki satu ragam baru para penari hendaknya melakukan Ji untuk mendapat posisi yang nyaman dan mengambil satu ragam baru. Pada intinya setiap gerakan yang ada dalam tarian Tea Eku  menampilkan unsur kelincahan kaki dan kelembutan tangan yang menjadi representasi dari keanggunan seorang perempuan Nagekeo.

               Suatu hal yang tak kalah pentingnya adalah mengenai kostum atau busana yang dikenakan dalam tarian tersebut. Para penari biasanya mengenakan baju bewarna hitam dan kain songket khas Nagekeo. Tak lupa pula para penari dilengkapi dengan sapu tangan yang memperindah setiap gerakan yang ditampilkan.

Baca juga : Ja’i Laba go, tarian orang ngadha

Tea Eku dalam Perkembangannya

Dalam perkembangannya hingga saat ini tarian Tea eku masih tetap dilestarikan. Tidak jarang tarian ini dipoles dengan berbagai kreatifitas yang membuatnya semakin menarik. Hal ini merupakan sebuah kebanggan dan tugas bagi generasi-generasi muda untuk terus mempertahankan warisan budaya yang telah diturunkan oleh para leluhur Nagekeo. Pertanyaan paling fundamental bagi kaum perempuan Nagekeo pada umumnya dan boawae pada khusunya demikian, “sebagai seorang perempuan Nagekeo yang sejati, tahukah kalian bagaimana menari Tea Eku (dengan benar) ?” secara pribadi, saya cukup meragukan jawaban afirmatif atas pertanyaan ini. Saya mencurigai bahwa kebanyakan perempuan Nagekeo saat ini (kaum muda khususnya) hanya sekedar mengenal sedikit Tea Eku dan tidak tau bagamana memeragakan Tea Eku.

Masa depan Tea Eku

Berdasarkan pengamatan sepintas yang saya lakukan,saya menemukan bahwa ketertarikan kaum perempuan (muda) Nagekeo saat ini terhadap tarian Tea Eku boleh dibilang minim. Gejala umum yang terjadi saat ini adalah bahwa orang (kaum muda) lebih tertarik pada tarian-tarian modern yang diiringi oleh musik elektronik ala barat misalnya DJ dan sebagainya. Hal ini membuat orang lupa akan budayanya sendiri atau terkesan kolot atau kuno bila mengambil bagian dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaanya sendiri. Atau terdapa anggapan bahwa tarian Tea Eku lebih cocok dibawakan oleh ibu-ibu di kampong. Hemat saya, keacuhan dan pesimistis akan warisan budaya ini akan sangat berdampak sikap peminggiran yang lebih luas.

Orang bisa saja bersikap ignoran terhadap nila-nilai budaya yang sebenarnya penting untuk dihayati dan menjadi pegangan hidup di tengah arus zaman. Kritik terhadap kaum perempuan Nagekeo seperti yang saya gambarkan di atas sebenarnya memiliki satu tujuan mulia yakni menemukan suatu cemeti yang memacu mereka untuk tahu bagaiman menjadi seorang perempuan Nagekeo yang selaraz zaman tetapi tetap berakar pada budaya. Semoga ulasan singkat ini dapat berdaya guna bagi setiap orang yang singgah dan membaca pada tulisan ini, khusunya bagi perempuan Nagekeo. (Editor : Ardy G.).


Catatan Kaki :

[*]              Tulisan ini pernah dimuat pada Buletin  “Pata Dela” (Buletin Fraters SVD Ledalero Asal Ngadha, Riung dan Nagekeo) @ Mei 2016.

[1]              Rede R. Blolong, dasar-dasar Antropologi, (Ende : Nusa Indah, 2012). Hlm.57.

[2]              Charis Djuwa sekarang sudah dithabiskan menjadi Imam Serikat Sabda Allah.

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca