man taking photo of sea
Photo by Hanif Abdulrasul on <a href="https://www.pexels.com/photo/man-taking-photo-of-sea-2106756/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Tentang persepsi di dalam term ilmiah adalah suatu piranti dasar yang harus diketahui seseorang di dalam pergumulan intelektual-filosofis yang tentu mendorong seseorang untuk masuk lebih dalam ke kesadaran intelektual yang lebih tinggi dan komprehensif, Karena mengenal apa yang disebut dengan Persepsi berarti kita akan memahami system kerja atau metode dari berpikir.  Dalam laman situs Kajianpustaka.com mengartikan persepsi sebagai usaha atau proses kognitif dalam menginterpretasiatau menafsirkan dan mengorganisasikan  informasi-informasi dan sensasi yang datang ke dalam pengamatan atau obserasi indrawi. Persepsi tentu berbeda dengan Pespektif. Jika persepsi adalah sebuah proses pemahaman maka perspektif adalah hasil dari pemahaman yang telah akhir dan final. Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa interpretasi dari persepsi tentu bersiat unik dan tidak sama tergantung pada situasi dan pengenalan indrawi terhadap realitas. Masing daya persepsi setiap indiidu tentu mengalami pebedaan. [1]

Baca Juga : Mengenal Rasionalisme dan Empirisme

Persepsi juga memungkinkan sebuah kesadaran manusia secara langsung akan realitas . Setiap pendekatan akan menentukan hasil persepsi yang beragam terutama mengenai informasi yang dapat dipercayai tentang fakta-fakta eksternal yang melibatkan indra-indra manusia seperti penglihatan, penciuman dan sebagainya.Persepsi yang paling sederhana adalah mengenai  sekilas penglihatan seperti gerakan atau warna yang tertangkap oleh mata kita. Perlu diketahui bahwa persepsi berbeda dengan sesansi. Sensasi adalah usaha persepsi yang masih berhenti pada proses pengenalan obyek yang belum teridentiikasi dengan baik dan dipertanggungjawabkan secara logis dan ilmiah sehingga belum melibatkan pengetahuan.

gallo tentang persepsi ayam
Photo by Edgar Arroyo on Pexels.com

Contoh tentang persepsi, apabila saya melihat seekor ayam, dan saya melihatnya secara langsung sebagai ayam, dan yang dialami sebagai satu kesatuan dan seketika. Konsep “ayam” sudah tertanam di dalam diri kita, tetapi agaknya itu dikembangkan di dalam bahasa dan pemahama kita , dari persepsi atas banyak ayam, yang mana hal ini pada manusia dewasa, konsep-konsep itu begitu melekat dalam persepsi sehingga nyaris tidak diperhatiakn lebih detail dan spesifik.[2]

Persepsi di dalam diskursus ilmiah atau perdebatan filosofis dipahami sebagai daya cerap dalam memahami sesuatu hal. Kebenaran-kebenaran yang dituangkan oleh pelbagai macam klaim kebenaran di dalam diskursus public merupakan kontruksi lanjut daripada sekian macam bentuk pandangan atau persepsi akan obyektifasi yang ditangkap dan dilihatnya. Sekian macam persepsi akan melahirkan dialektika yang beragam dalam memahami sesuatu obyek tertentu. Namun perlu diketahui bahwa terdapat macam-macam bentuk persepsi, ada persepsi umum dan persepsi khusus. Persepsi umum dapat dikatakan sebagai persepsi bawaan sebagaimana yang termuat di dalam aliran Rasionalisme yang memuat ide tentang Tuhan dan kebenaran-kebenaran umum dan juga Persepsi khusus seperti yang berlaku pada kaum empirisme. Rasionalisme pasti mendukung tentang klaim bahwa persepsi mendahului obyek sedangkan di dalam empirisme ditegaskan bahwa obyek mendahului persepsi. Persepsi di dalam Rasionalisme mengandalkan pemikiran sedangkan persepsi di dalam Empirisme mengandalakn data dalam hal ini penyelidikan indrawi dimana hal tentu telah diakui bahwa pengetahuan berakar pada persepsi kita, bukan pada nalar oleh hasil pemikiran bawaan.

Kita patut mengakui bahwa yang mendukung terjadinya bentukan persepsi adalah hasill kerja atau perpaduan antara pemikiran dan obyek yang mendatangkan kepada pemikiran. Keduanya berperan dalam membentuk persepsi ini.  Tokoh Empiris misalkan adalah John Locke dan David Hume sedangkan Tokoh rasionalis adalah Leibniz, Descartes dan lain-lain. Dua aliran ini kemudian diketengahkan oleh Immanuel Kant dalam Kritisismenya yang sangat popular.

Sebagai Catatan akhir kembali ditegaskan bahwa yang pastinya persepsi sangat menunjang interaksi manusia bersama dengan realitas sekitarnya sebagai ciri alamiah manusia sebagai makhluk yang berkesadaran. Tanpa persepsi manusia tidak bisa berkomunikasi dan mengenal realitas indrawi. Mengambil visualisasi kemuadian mengolah data tersebut di dalam akal menjadi sebuah informasi sebagai sebuah kebenaran pertama. Melalui persepsi manusia dapat menangkap dan membuat sebuah penafsiran dan mengindentifikasikan obyek indrawi sebagai sesuatu yang bisa dikenal dan diketahui. Inilah tentang persepsi. Dengan pesepsi manusia dapat mengetahi dan membuat kebenaran-kebenaran akan sesuatu yang bisa dibagikan untuk memengaruhi orang lain.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa persepsi bukanlah data spesifik yang sudah pasti mengenai suatu hal akan tetapi lebih kepada pandangan atau kesan sementara dan umum mengenai suatu hal atau objek tertentu maka untuk mengetahui tentang detailnya perlu pendekatan yang dinamakan dengan proses flsifikasi untuk menguji persepsi tersebut menjadi sahih atau tidak.

Sekian catatan tentang persepsi semoga catatan tentang persepsi ini dapat bisa memberikan khasanah ilmiah baru bagi pengunjung patadela.id sekalian dalam memperkaya informasi dan pengetahuan. Segala macam bentuk kritikan dan usul saran yang membangun sangat diharapkan. Anda dapat berikan melalui konfirmasi komentar melalui kolom komentar.


[1] www.Kajianpustaka.com diakses pada tanggal 09 Oktober 2023 Pukul 19.00 WITA

[2] Peter Gibson, Segala Sesuatu yang Perlu anda ketahui tentang filsaat, (Jakarta : Penerbit Gramedia Pustaka Utama,2023) Hal. 80

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca