Teori Kritis Jűrgen Habermas merupakan sebuah teori yang merekonstruksi kembali sebuah teori kritis Generasi Pertama milik Adorno, Horkheimer dan Herbet Marcuse yang sempat menuai jalan buntu berdasarkan visi emansipatoris. Jalan buntu yang dihadapi  oleh Teori Kritis tersebut adalah dipengaruhi oleh faktor keberadaan masyarakat modern yang gagal dibungkam oleh teori kritis warisan Marx klasik ini terutama tentang paradigma kerja yang dicita-citakan oleh teori kritis tersebut menuai sebuah kritik baru. Adanya praksis kerja di dalam marxisme yang diagungkan dalam teori kritis ini ternyata mendatangkan juga suatu masalah yakni berlakunya perbudakan baru. Hal ini merupakan sebuah jalan buntu. Setelah sekian lama teori kritis hilang pamor dan pengaruhnya yang berujung tenggelam karena kehilangan korelasi, munculah seorang tokoh berpaham Marxis,  Jűrgen Habermas berinisiatif mendesainnya kembali lengkap dengan pelbagai argurmen pendukung yang menyertakan sebuah paradigma baru yakni berpijak pada paradigma komunikasi. Teori Kritis dibangun berkat dukungan dan perjumpaannya dengan sebuah organisasi yang bernama Sozialistischer Deutsche Studentenbud (Kelompok Mahasiswa Sosialis Jerman) dan teristimewa sepak terjang akademiknya di Institut fűr Sozialforschung. Teori Kritis ini dikembangkan untuk melanjutkan kebuntuan tradisi pemikiran teori kritis generasi pertama tersebut. Akan tetapi ia kemudian keluar dari Universitas Frankfurt dan pindah ke Stanberg pada sebuah lembaga yang bernama Max Planck institut zur Erforschung der Lebensbendingungen ( Institut Max Palanck untuk Penelitian Kondisi-kondisi Hidup dari Dunia Teknis-ilmiah) karena penolakannya atas gerakan aksi kekerasan yang dilakukan oleh Mahasiswa Sosial tersebut. Ia mengecam aksi tersebut sebagai “revolusi palsu” ,”bentuk pemerasan yang diulang kembali”,”picik” dan counterproductive.

Baca Juga :Mengetahui Zaman pencerahan

Sedangkan berkenaan dengan biografinya, Jűrgen Habermas sendiri adalah salah satu  filsuf dan sosilog abad 20 berkebangsaan jerman yang lahir pada 18 Juni 1929 di kota Dusseldorf. Ia berkenalan dengan Institute Penelitian Frankfurt pada tahun 1956 dan sempat dipercayai menjadi asisten dari gurunya Theodor Adorno. Ia pun belajar sosiologi dari Adorno dan sempat meneliti sikap politik mahasiswa di Universitas Frankfurt. Ia diangkat menjadi professor sosiologi dan filsafat untuk menggantikan posisi gurunya Hokheimer pada universitas ini pada tahun 1964.[1] Ia merupakan seorang filsuf yang sangat tertarik dengan gagasan-gagsan Karl Marx.

The Institute for Social Research, Frankfurt am Main, Germany, teori Kritis Jurgen Habermas
The Institute for Social Research, Frankfurt am Main, Germany, sumber : wikipedia.org

Baca Juga : Mazhab Frankfűrt

Berdasarkan anatominya,  embrio dari Teori Kritis Jűrgen Habermas berakar pada idealisme jerman misalkan dicangkokan pula gagasan pemikir yang dikembangkan oleh pendahulunya yakni transcendentalisme Kant, Idealisme Fichte dan Hegel serta berlanjut pada materialisme Marx. Selain itu ia juga mengawinkan butir-butir pemikiran dari psikoanalisis Freud ke dalam konstruksi filsafatnya yang disertakan pula aspek linguistik analisis dari Wittgesntein, Searle dan Austin. Selain itu tentang analisis bahasa dapat dimengerti dalam konteks pemahaman baru  Teori Kritisnya mengenai Komunikasi sebagai salah satu dimensi praxis.[2]  Oleh karena itu jika orang berbicara tentang Habermas maka akan dipertemukan dengan konsep rasional komunikasi yang mau menunjukan bagamana pentingnya pengungkapan yang rasional dan masuk akal di dalam proses komunikasi seseorang agar komunikasi itu benar-benar dimengerti dan tidak menimbulkan salah tafsir bagi pihak lain yang menerima komunikasi tersebut. Dan kita tidak bisa melupakan peran pemikir pragmatis Amerika Serikat seperti Peirce, Mead dan Dewey. Sehingga corak teori kritisnya terlihat lebih kepada sebagai sebuah konstruksi teori yang dibangun dengan mengintergrasikan oleh sekian banyak teori dan konsep pemikiran yang memberikan sebuah khazanah pemikiran yang sangat kaya, cerdas dan brilian serta bersifat dialektis.

Maka baginya seturut teori tindakan komunikatifnya, menurutnya sebuah konsesus sosial atau komunikasi akan tercapai apabila di antara semua peserta interaksi dapat memenuhi empat klaim validitas (Validity claims) yang meliputi Kejelasan ( understabiliy : aku harus mengungkapkan diri dengan jelas sehingga apa yang mau dikatakan dapat dimengerti), Kebenaran ( truth : aku mau menyampaikan sesuatu ) kejujuran ( truthfulness : aku mau mengungkapkan diriku ), dan ketepatan (rightness : pembicaraan ku harus tepat dengan norma-norma komunikasi untuk mencapai suatu pengertian.[3] Syarat validitas di atas menentukan pencapaian sebagai sebuh proses rasionalitas di dalam berkomunkasi sehingga antar pihak yang berinteraksi dapat memahami tentang arti komunikasi untuk memudakan proses pemahaman yang tidak dapat keliru. Menurut Habemas, semua komunikasi yang efektif harus memenuhi empat klaim validitas di atas dan siapapun yang mampu menguasai keempat klaim validitas tersebut ia memiliki kompetensi komunikasi.

Baca Juga : Mengenal  Idealisme Jerman  : Perjumpaan Terhadap Metafisika Gaya Baru

Di dalam interaksi sosial (teori tindakan) Habermas membedakan antara tindakan komunikatif dan tindakan strategis. Tindakan komunikatif dipandang lebih genuine karena dalam interaksi tersebut  pelaku tindakan komunikasi memiliki orientasi pada pencapaian pemahaman sehingga sukses dan tidaknya bukanlah sebuah ukuran yang menghindari aspek egositas untuk keuntungan pribadi.  Keberhasilannya adalah justru tampak pada tercapainya saling memahami di antara kedua belah pihak yang  berkomunikasi sedangkan tindakan strategis menurut Habermas bisa bersifat terbuka maupun tersembunyi, dalam keadaan terbuka para pelaku dapat secara sadar menipu pihak lain sehingga menjadi manipulasi, akan tetapi dalam interaksi, pelaku dapat dengan tidak sadar menipu diri mereka sendiri seakan-akan tidak bertindak secara strategis sementara menampakan diri mereka seolah-olah ingin mencapai saling-pemahaman. Habermas menamakan hal ini dengan istilah komunikasi yang terdistorsi secara sistematis. [4] selain itu tindakan komunikasi dapat dinamakan pula dengan rasional komunikasi sedangkan tindakan strategis dapat dinamakan pula dengan rasional instrumental. Tindakan strategis masih bisa dapat dikaitkan dengan konteks pekerja atau praksis kerja yang digadang-gadangkan oleh Teori Kritis sebelumnya yang mana pekerjaan dapat disimilarkan dengan tindakan instrumental sebagai sebuah tindakan yang dijadikan sarana untuk menuai hasil tertentu.

Di lain pihak adapun syarat-syarat komunikasi yang harus dipenuhi menurut Habermas untuk mencapai kekuatan- kekuatan argurmen-argurmen terbaik dapat meyakinkan. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :

  • Semua peserta mempunyai peluang yang sama untuk memulai suatu diskusi dan dalam diskusi itu mempunyai peluang yang sama untuk mengemukakan argurmen-argurmen dan mengkritik argurmen-argurmen peserta lain.
  • Di antara peserta-peserta tidak ada perbedaan kekuasaan yang dapat menghindari bahwa argurmen-argurmen yang mungkin relevan sungguh-sungguh diajukan juga, dan akhirnya
  • Semua peserta mengungkapkan pemikirannya dengan ikhlas, sehingga tidak mungkin terjadi yang satu memanipulasi yang lain tanpa disadarinya.[5]

Namun semua gagasan Teori Krtis Jűrgen Habermas ini tidak luput dari penyertaan kritik dari para pemikir lain. Dikutip dari catatan Jenny Edkins dan Nick Vaughan- Williams, Adapun wacana tindakan komunikatif yang dituangkannya mengundang sebagaian filsuf memandang cita-cita habermas terlihat naif dan utopis (ideal). Sementara yang lainya menuding etika diskursus Habermas tersebut bersifat etnosentris yang mengistimewakan modernitas liberal dan pemahaman yang sempit atas argumentasi rasional.


[1] Wikipedia.org diakses pada 7 januari 2024

[2] F.Budi Hadirman, Kritik Ideologi : Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2009),hal. 88-89

[3] Zaprulkhan, Filsafat Ilmu, Sebuah Analisis Kontemporer, (Depok, Rajawali Pers,2021), hal.294

[4] F.Budi Hadirman, Op.Cit, Kritik Ideologi

[5] Zaprulkhan, Op.cit, Filsafat Ilmu

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca