a close up shot of a sefer torah
Photo by cottonbro studio on <a href="https://www.pexels.com/photo/a-close-up-shot-of-a-sefer-torah-5986493/" rel="nofollow">Pexels.com</a>

Ketika dipertanyakan mengapa torah (taurat) dilihat sebagai falsafah orang Yahudi (dasar pandang dan arah hidup) adalah sebuah eksplorasi yang cukup rumit mengingat ada bentang kronologis waktu yang sangat jauh akan terbentuknya kesepakatan normatif bagi orang yahudi dari zaman Abraham hingga kehidupan Yahudi modern dewasa ini. Namun yang perlu diakui bahwa sefer torah atau kelima gulungan kitab tersebut tak bisa dipungkiri adalah bagian dari dasar hukum bagi orang Yahudi dalam menjalani hidup mereka dengan mengandalakn Yahwe sebagai penuntun tertinggi yang diperantarakan oleh utusan lewat nabi-nabi mereka. Bahwa dasar hukum yang ditimba dari taurat bukan saja petunjuk atau isi perjanjian yang diikatkan bangsa Yahudi dengan Elohim-nya melainkan juga serentak sebagai instruksi cara bersosial yang baik dengan sesama dan juga begaimana mengaktifkan cara melakukan ritual kultus keagamaan yang baik juga dimuat di dalam isi kelima kitab ini, Kita bisa melihatnya di dalam sepuluh hukum yang bisa dikenal dengan Sepuluh Perintah Allah. Di dalam perintah ini termuat dengan jelas dan detail mengenai relasi manusia dengan Allah dan sesamanya.

Di dalam bahasa ibrani,  taurat merujuk kepada kata torah yang berarti intruksi atau petunjuk yang meliputi kelima kitab pertama (Tanakh) dari Alkitab Ibrani yang dipandang sebagai kitab yang dirangkum oleh Musa sendiri. Dalam bahasa Yunani disebut Pentateukh (“lima wadah” atau “lima gulungan”). Istilah pentateukh diketahui petama kali digunakan oleh orang Yahudi berbahasa Yunani di kota Alexandria yang bermakna sebagai (falsafah orang Yahudi) hukum musa.  Menurut literature rabinik, torah terbagi atas torah syebekitab atau torah yang ditulis dan torah syebe’al Peh atau torah yang diucapkan dimana torah ini merupakan bentuk amplifikasi tradisional sebagai tardisi lisan dari mulut ke mulut dari generasi ke generasi.[1] Dan kelima kitab taurat tersebut meliputi Kitab kejadian (Genesis), Keluaran (Eksodus),Imamat (Leviticus), Bilangan(Numerii) dan Ulangan (Deuteronomium). Kata torah kemudian lebih digunakan dalam arti luas lagi yang meliputi peraturan tertulis maupun lisan yang meliputi  seluruh ajaran agama Yahudi yang termasuk pula Miahnah, Talmud dan Midrash. Midrash sendiri merupakan eksegese bagi orang Yahudi dalam proses menafsirkan isi taurat.

Baca Juga : Sejarah Perang Salib

an elderly man reading a chumash, torah
Photo by cottonbro studio on Pexels.com

Perlu diketahui bahwa kitab taurat dalam versi tulisasan syebekitab muncul setelah umat Yahudi mengalami krisis atau kekosongan spiritual mereka karena dampak pembuangan dalam masa tawanan oleh Babilonia. Mereka kehilangan Negara, kemerdekaan politis hingga eksistensial agama mereka dengan sangat bangga mengagungkan  Bait Allah Yerusalem sebagai kiblat kultus pemujaan dan tempat berdiam Yahweh bersama umat-Nya. Krisis ini pasti dialami setelah mereka sekian lama terbentuk dengan identitas atas perjalanan bangsa mereka yang telah terbentuk sekian lama mulai dari kisah panggilan Abraham hingga panggilan musa. Sebuah perjalanan ziarah yang telah lama terbentuk akhirnya mersa kosong setelah mengalami situsi pembuangan kendati mereka juga sangat diperlakukan baik dengan diberikan fasilitas perumahan yang nyaman. Bagaimana mereka harus lagi berbakti kepada Yahweh tanpa adanya Bait Allah yang sebelumnya diandalkan sebagai tempat pertemuan dengan Tuhan mereka. Pada tempat pembuangan Karen Armstrong menggambarkan Yehezkiel seorang imam muda mengalami sebuah penglihatan yang amat dasyat dan mengerikan, Yehezkiel melalui pengelaman spiritual merasa seperti berada di dalam kavod, yaitu kemuliaan Yahweh yang biasanya bertahta di bagian dalam yang mahakudus dari Bait Allah itu. Hal ini terlihat sepertinya Allah telah meninggalkan Yerusalem dan mengendarai apa yang tampak seperti kereta perang berukuran raksasa,telah datang untuk berdiam bersama kaum buangan di Babilonia dan ada sebuah tangan terentang ke tangan Yehezkiel  yang sedang memegang gulungan kitab, yang di dalamnya penuh ditulis dengan “nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah, dan rintihan”, “..makanlah gulungan kitab ini,” Melalui pengelaman spiritual dan kenabian Yehezkiel  seolah-olah terjadi peralihan dimana kaum buangan yang merindukan Bait Allah Yerusalem mereka  yang sudah hilang sebelumnya akhirnya tibalah sebuah waktu dimana mereka akan menjalin hubungan dengan Allah mereka melalui tulisan-tulisan suci, dan bukan lagi lewat sebuah tempat suci. Mereka akan memahami teks-teks suci menjadikan sebagai bagian hidup mereka dan merasa bahwa Allah hadir di tengah-tengah keterasingan mereka sebagaimana situsasi terdahulu Bait Allah Yerusalem mereka.[2] Sebuah zaman transisi dari kultus pemujaan langsung ke kultus teks suci akhirnya terbentuk di sini, namun harus diketahui bahwa sebuah tardisi lisan juga terus digiat secara turun –temurun di dalam komunitas mereka yang melihat torah tersebut sebagi dasar hukum atau falsafat hidup mereka. Tradisi tekstual ini akhirnya kelak membawa pembaruan keagamaan mereka termasuk pemulihan kembai bangsa dan Negara mereka setelah mereka diijinkan kembali dari masa pembuangan. Pembaruan ini berkat proses editorial dari tradisi lisan mengenai kisah-kisah kenabian mereka di tanah pembuangan agar lebih sesuai dengan konteks kehidupan mereka. Kita perlu ketahui tentang beberapa tradisi atau teori penulisan torah seperti Elohim, Yahwista, dan Priestly dan Deuteronomis.

Demikianlah catatan seputar taurat atau torah sebagai falsafah orang Yahudi, kiranya tulisan ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua. Kitab ini tentu sangat popular secara umum terlepas bagi kaum yuahudi itu sendiri baik bagi kalangan Kristiani maupun umat muslim yang juga mengimani taurat dan nabi Musa sebaga nabi terdahulu.


[1] Wikipedia.org/taurat diakses pada 11 Nopember 2023

[2] Karen Armstrong, Sejarah Alkitab :Telaah Historis atas Kitab yang Paling Banyak Dibaca di Seluruh Dunia (Jakarta : Penerbit Mizan, 2013) hal. 31

By Ardy G

Pernah belajar di bidang Filsafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Eksplorasi konten lain dari Patadela.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca